SELAKSA.ID Pengamat politik Rocky Gerung memberikan perspektif kritis tentang kelanjutan kasus ijazah yang menyeret nama Jokowi beserta hukum Roy Suryo. Pada acara Indonesia Lawyers Club yang berlangsung pada Senin 29/6/2026 mantan dosen Universitas Indonesia menilai perdebatan yang sedang berlangsung sudah bergeser jauh dari substansi hukum.
Menurut pria asal manado tersebut, pembahasan tentang ijazah jokowi selama beberapa hari terakhir tidak lagi difokuskan pada pemenuhan berkas perkara secara administratif, melainkan pada arah politik di balik kasus yang sedang berjalan.
"Kita pertengkarkan dua hari ini bukan lagi berkas perkara, tapi gelelegat dari perkara ini. Berkasnya ada, begitu ada istilah orang kuat, berkasnya pindah pada gelagat. Kira-kira kemana arahnya?," Ungkap rocky gerung di di acara indonesia lawyers club tanggal (29/6/2026).
Kakak Grevo Gerung itu menilai bahwa mempersoalkan berkas perkara pada tahap ini menjadi tidak krusial, sebab menurutnya sejak awal kasus ini terlihat kental dengan nuansa politik.
"Jadi ngapain lagi mempersoalkan berkas itu, dari awal kasus kasus ini tentang gelagat politik yang makin lama terpolar," ujarnya.
Selanjutnya, ia menyinggung terlibatnya dr. Tifa dan Roy Suryo meneliti isu ini. Ia memberikan analogi bahwa problem ijazah dengan muatan intelektual seseorang dari dimensi sosiologis dan dimensi psikologis.
"Seandainya ijazah pak jokowi hilang, pertanyaannya apakah otak juga hilang? Itu yang mau diteliti oleh dr tifa, supaya tidak ada pembuktian bahwa otak orang itu tidak hanya tergantung pada ijazahnya," pungkasnya.
Rocky menganggap yang menjadi fundamental pribadi adalah kemampuan berpikir dan kalkulasi kebijakan seorang pemimpin sudah terbukti efektif di mata publik, maka kepemilikan ijazah secara fisik bukan lagi persoalan yang diperdebatkan.
"Kalau dibuktikan secara sosiologis, secara psikologis pak jokowi berpikir beruntun, reasioning bagus, dan kalkulasinya efektif. Maka, orang nggak akan persoalin mau punya ijazah atau tidak punya ijazah," jelasnya.
Rocky menegaskan bahwa polemik yang bergulir di ruang publi dasarnya panggung ujian terhadap kualitas dan kapasitas berpikir dari masing-masing tim hukum yang terlibat.
"Tapi, kita masuk disitu tampa sadar bahwa sedang diuji kapasitas berpikir dari hak pengacara tim Jokowi, tim roy suryo tentang kasus ini.
