Kritik itu disampaikan Aryanto melalui cuitan di Twitter yang kemudian menjadi perhatian publik. Dalam unggahannya, Aryanto menyebut pimpinan Unsoed tidak menunjukkan ketegasan dalam menangani kasus kekerasan seksual yang diduga dilakukan oleh dosen terhadap mahasiswi.
“Tidak adanya hukuman bagi dosen yang melakukan kejahatan seksual pada mahasiswi,” tulis Aryanto dalam cuitannya.
Aryanto mengaitkan kekhawatirannya dengan kasus di Universitas Negeri Manado (Unima), di mana korban bernama Evia Maria Mangolo disebut meninggal dunia dan meninggalkan catatan pribadi terkait dugaan kekerasan seksual oleh dosen.
“Apakah kasus pelecehan seksual yang terjadi di kampus saya, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) juga harus ada korban yang bundir?” tulisnya.
Sebut Nama Dosen dan Kronologi Dugaan Pelecehan
Dalam cuitan tersebut, Aryanto menyebut dugaan kekerasan seksual di Unsoed dilakukan oleh dosen bernama Adhi Iman Sulaiman, yang disebut bergelar profesor dan mengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).
Aryanto memaparkan kronologi dugaan kejadian yang menurutnya terjadi saat penelitian ke luar kota. Ia menyebut korban berinisial “Bunga” menolak permintaan dosen tersebut, lalu menceritakan kejadian itu kepada rekan kuliahnya dan didorong untuk melapor ke pihak kampus.
Menurut Aryanto, kasus itu kemudian menjadi perhatian setelah mahasiswa memviralkan cerita korban. Ia menyebut demonstrasi dilakukan oleh BEM kampus pada Juli, Agustus, hingga September, sementara dugaan kejadian disebut terjadi pada April.
“Tekanan demonstrasi yang digagas BEM dan mahasiswa tidak berdampak apa pun,” tulis Aryanto.
Soroti Respons Kemendikti dan Sanksi Administratif
Aryanto juga menyinggung perbedaan respons pemerintah terhadap kasus di Unima dan Unsoed. Ia menyebut Kemendikti sempat memberi perhatian terhadap kasus di Unima, meski dinilainya hanya bersifat normatif dan diserahkan ke pihak kampus.
Namun, untuk kasus di Unsoed, Aryanto menyatakan tidak melihat respons dari Kemendikti.
Ia menilai mekanisme penanganan dosen bermasalah tidak jelas, dan sanksi yang dijatuhkan disebut hanya bersifat administratif serta tidak permanen.
“Hanya sanksi administratif tidak permanen, seperti diskorsing mengajar selama 2 semester,” tulisnya.
Aryanto mempertanyakan kemungkinan dosen bermasalah tetap kembali mengajar setelah sanksi selesai, serta dampaknya terhadap rasa aman mahasiswa.
Klaim Ada Kasus Lain dan Dugaan Penutupan oleh Kampus
Dalam cuitannya, Aryanto juga menyebut dugaan kasus kekerasan seksual di Unsoed “terlampau banyak” namun menurutnya ditutupi pihak kampus.
Ia menyebut nama dosen muda di Fakultas Ekonomi bernama Muhammad Syah Fibrika Ramadhan, yang dituduh sebagai predator terhadap mahasiswa bimbingannya.
“Beberapa korban telah melaporkan perbuatan dosen ini, namun pihak kampus menutupi,” tulis Aryanto.
Ia juga menyebut adanya cerita kronologi yang diklaim telah disampaikan kepada pihak kampus oleh pacar korban.
Singgung Wakil Rektor III dan Dugaan Bisnis Hiburan
Aryanto turut menyoroti sosok Wakil Rektor III Unsoed bernama Norman Arie Prayogo, yang disebutnya kerap tampil dengan pakaian dan aksesori berkelas.
Ia menuliskan dugaan bahwa Norman memiliki bisnis restoran dan bisnis hiburan karaoke, sehingga disebut mendapat julukan “BOS LC” di kalangan mahasiswa.
Aryanto juga menyinggung laporan LHKPN yang menurutnya menunjukkan harta sebesar Rp 1,19 miliar.
“Dengan jabatan Warek III bidang kemahasiswaan, rasanya tidak pernah kami menerima manfaat dari orang ini, kecuali pamer pakaian mewah lengkap dengan aksesorisnya,” tulis Aryanto.
Isu UKT dan Dugaan Permainan Anggaran Penerimaan Mahasiswa Baru
Selain kekerasan seksual, Aryanto menyebut mahasiswa juga pernah melakukan demonstrasi terkait penurunan biaya UKT. Ia menilai terdapat “kekuatan” di balik rektorat yang mengendalikan stabilitas kampus.
Aryanto juga menyampaikan dugaan adanya permainan anggaran penerimaan mahasiswa baru, terutama di Fakultas Kedokteran. Ia menuliskan rumor adanya calon mahasiswa yang tidak lolos pengumuman namun kemudian mengikuti perkuliahan.
Ia menyebut dekan Fakultas Kedokteran Rudi Prihatno disebut tidak harmonis dengan rektor karena isu tersebut.
Aryanto kemudian menuliskan analogi terkait besaran UKT mahasiswa kedokteran yang ia sebut rata-rata Rp 500 juta dan dikalikan 100 mahasiswa menjadi Rp 50 miliar.
“Itu baru analogi dari satu jurusan kedokteran,” tulisnya.
Menjelang Pemilihan Rektor, Sebut Kandidat dan Dugaan Politik Internal
Aryanto menyebut Rektor Unsoed saat ini bernama Akhmad Sodiq dan masa jabatannya disebut akan segera berakhir sehingga kampus akan memasuki pemilihan rektor.
Ia menyebut terdapat tiga kandidat, yakni Ali Rohman, Adi Indrayanto, dan Khavid Faozi, namun menilai semuanya bagian dari skema untuk mempertahankan kekuasaan petahana.
Dalam cuitannya, Aryanto menyebut Ali Rohman berasal dari FISIP dan menyebutnya sebagai sosok oportunis, serta mengaitkan nama Ali dengan Muhammadiyah dan sejumlah tokoh lokal yang disebut berperan dalam dinamika politik kampus.
Aryanto juga menyinggung adanya nama-nama seperti Muhammad Djohar, Nur Fauzi, Eko Suyono, Yedi Sumaryadi, Norman Arie Prayogo, serta Nana Sutikna dalam narasi yang ia tuliskan.
Selain itu, Aryanto menyebut Akhmad Sodiq berasal dari NU dan menuliskan bahwa ia berupaya mendekati jalur politik melalui Gerindra.
Ia menyoroti adanya papan nama “GRIYA NOVITA WIJAYANTI” pada proyek rusun mahasiswa dan mempertanyakan alasan penggunaan nama tersebut.
Desak Ketegasan Kemendikti
Aryanto menegaskan bahwa kekerasan seksual di kampus harus mendapat tindakan tegas dari Kemendikti dan penegakan hukum.
“Dosen predator jangan dilindungi rektorat,” tulisnya.
Ia juga menyebut nama Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto dan menuntut ketegasan serta mekanisme yang jelas terhadap dosen yang disebut melakukan kekerasan seksual.
Soroti Fenomena Kotak Kosong dan Menurunnya Partisipasi Pemira
Dalam bagian akhir cuitannya, Aryanto menyinggung kondisi demokrasi kampus yang menurutnya mengalami krisis. Ia menyebut 2025 menjadi tahun keempat fenomena “kotak kosong” dalam Pemilihan Raya (Pemira) kampus.
Ia menuliskan berdasarkan rekapitulasi penghitungan suara, jumlah pemilih menurun 3.000 dari tahun sebelumnya.
“Masa pemilihan rektor kalah sama Pilkades!!” tulis Aryanto.[]
