Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Verdiansyah Membaca Ulang Doridungga Dari Akar Masalah Bukan Dari Seremoni Program

18 Sep 2026, September 18, 2026 WIB Last Updated 2026-09-18T12:07:22Z
Verdiansyah Tawarkan Revolusi Total untuk Perbaikan Doridungga 
SELAKSA.ID Doridungga selama ini terlalu sering disuguhi program seremonial yang ramai di awal dan sepi di akhir. Air bersih tetap menjadi antrean tahunan, pemuda tetap tidak punya ruang, dan kantor desa tetap berjalan dengan cara yang sama seperti sepuluh tahun lalu. Inilah yang membuat banyak warga merasa desa ini bukan kekurangan kegiatan, melainkan kekurangan keberanian untuk memperbaiki sistem dari akarnya.

Verdiansyah AHZ, Bakal Calon Kepala Desa Doridungga 2027-2034, datang dengan cara membaca yang berbeda. Ia tidak memulai dari apa yang ingin dibangun, tetapi dari apa yang selama ini gagal diperbaiki. Visi SIDDIQ yang ia bawa langsung pada unsur besar yaitu kesejahtera, Inovatif, Damai, Dedikatif, Integritas, Qur'ani bukan sekadar singkatan yang indah, melainkan jawaban langsung atas tiga penyakit lama Doridungga, yaitu pelayanan dasar yang tidak tuntas, kepemimpinan yang tertutup, dan modal sosial yang retak.

Pertama, soal kesejahteraan. Verdiansyah memahami bahwa sejahtera tidak akan pernah tercapai jika desa masih gagap mengurus kebutuhan paling primer warganya. Krisis air minum adalah contoh paling telanjang dari stagnasi struktural. 

Desa tidak bisa melompat ke digitalisasi atau pariwisata jika keran warganya saja tidak mengalir. Karena itu ia menempatkan pembenahan infrastruktur air bersih sebagai fondasi kemapanan, bukan sebagai proyek tambahan. Ini adalah cara berpikir akademis yang membedakan antara membangun citra desa dengan membangun kemapanan masyarakatnya.

Kedua, soal kebuntuan sistem. Doridungga stagnan bukan karena tidak ada orang pintar, tetapi karena sistemnya tidak memberi ruang bagi orang pintar untuk bekerja. Kepemimpinan konservatif sebelumnya telah menciptakan birokrasi desa yang administratif, lamban, dan anti kritik. Verdiansyah menawarkan antitesa yang jelas melalui kata Inovatif, Dedikatif, dan Mandiri. 

Inovatif berarti berani merombak tata kelola, dedikatif berarti hadir dan bekerja bersama warga, dan mandiri berarti desa harus mampu mengelola potensi lokalnya sendiri tanpa selalu menunggu dari atas. Ini adalah tawaran untuk mengubah kantor desa dari ruang tunggu menjadi ruang kerja.

Ketiga, yang paling krusial, adalah krisis kepercayaan. Ketika pembangunan hanya diukur dari bangunan fisik, maka yang hilang adalah integritas. Warga mulai apatis, gotong royong memudar, dan hubungan antar warga merenggang. Di sinilah Verdiansyah meletakkan nilai Integritas, Damai, dan Qur'ani sebagai poros etik. SIDDIQ yang berarti jujur dan dapat dipercaya ia jadikan sebagai kontrak moral, bahwa kepemimpinan harus amanah, transparan, dan dapat diuji. Nilai Qur'ani ia posisikan bukan sebagai jargon keagamaan, melainkan sebagai sistem etika publik yang konkret untuk memulihkan kejujuran, keadilan, dan kepedulian sosial. Dari situlah kedamaian dan gotong royong bisa tumbuh kembali secara organik, bukan karena instruksi.

Dan semua itu tidak mungkin terjadi tanpa dua kekuatan yang selama ini dipinggirkan, yaitu partisipasi masyarakat dan generasi muda. Verdiansyah secara tegas menolak model pembangunan satu arah. Ia mengusung kepemimpinan partisipatif yang demokratis, di mana warga dilibatkan sejak perencanaan, bukan hanya dipanggil saat peresmian. 

Ia juga menempatkan pemuda bukan sebagai objek pembinaan, melainkan sebagai subjek penggerak. Selama ini pemuda Doridungga hanya menjadi penonton di desanya sendiri dan akhirnya memilih merantau karena tidak ada panggung. Dengan misi kebangkitan generasi muda, ia ingin mengubah bonus demografi yang selama ini menjadi beban menjadi mesin utama ekonomi kreatif dan inovasi desa.

Iklan

iklan