Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Yogi Pratama, Pegiat Kebijakan Publik: Indonesia Tangguh Keluar Sebagai Juara dari Tekanan Global

29 Jul 2026, Juli 29, 2026 WIB Last Updated 2026-07-29T11:39:46Z

SELAKSA.ID Dalam dua tahun terakhir, dunia dihantam disrupsi berlapis: geopolitik Timur Tengah memanas, harga energi global naik-turun, rantai pasok terganggu, dan tekanan inflasi impor terus ada. 

Namun lewat interaksi kebijakan yang solid dan memprioritaskan pada kemampuan ekonomi nasional, Indonesia bukan hanya mampu _survival_ dari tekanan eksternal. Melainkan mampu keluar sebagai sang juara yang tangguh, bertahan, adaptif dari berbagai gangguan.

Ketangguhan itu tidak datang tiba-tiba. Ia dibangun dari empat pilar utama kebijakan energi dan fiskal nasional: EBTDA, Oil & Gas Productions, Additional Reserves, dan HSSE. Empat kata kunci ini menjadi fondasi agar Indonesia tidak hanya bertahan, tapi juga memimpin.

1. Mempercepat Transisi Energi Tanpa Mengorbankan Ketahanan. 

Transisi energi sering dipahami sebagai “tinggalkan fosil, pindah ke hijau”. Padahal bagi Indonesia, transisi harus adil dan bertahap. Karena itu pemerintah mendorong EBTDA sebagai Energi Baru Terbarukan dan Diversifikasi Aset. 

Peluncuran PLTS 100 GW dan peresmian 1.400+ desa berlistrik pada 2025 adalah bukti nyata. Kita tidak menunggu sempurna, kita mulai dari yang bisa dikerjakan sekarang.

Secara ekonomi, EBTDA adalah strategi energy security diversification. Dengan bauran energi yang lebih beragam, ketergantungan pada impor migas dan volatilitas harga global bisa ditekan. Secara fiskal, investasi EBT juga menciptakan multiplier effect: lapangan kerja baru, industri panel surya, baterai, dan infrastruktur grid. 

Ini bukan sekadar agenda iklim. Ini adalah agenda kedaulatan. Negara yang mampu memproduksi energinya sendiri, adalah negara yang tidak mudah ditekan.

2. OIL & GAS PRODUCTIONS, Menjaga Cadangan dan Stabilitas Harga Domestik.
Di tengah perang dan sanksi, banyak negara panik soal BBM. Indonesia memilih jalur berbeda: menjaga produksi, menjaga stok, dan memastikan harga subsidi tidak naik. 

Impor BBM Rusia dengan skema G2G lewat Lemigas, percepatan RDMP Balikpapan, dan proyek Gas Abadi Masela yang 28 tahun tertunda akhirnya jalan. Ini semua untuk satu tujuan: memastikan pompa bensin tetap menyala dan harga tidak membebani rakyat.

Kebijakan ini adalah praktik, counter-cyclical energy policy. Saat harga ICP di atas 90 dolar/barel, banyak negara melepas subsidi. Indonesia memilih menahan, karena sadar dampak sosialnya lebih besar dari beban fiskal jangka pendek. 

Produksi migas nasional juga dijaga bukan untuk ekspor sebanyak-banyaknya, tapi untuk memenuhi kebutuhan domestik terlebih dahulu. Ini prinsip domestic market obligation_ yang diperkuat. Hasilnya: inflasi energi terkendali dan daya beli masyarakat terjaga.

3. ADDITIONAL RESERVES, Menambah Cadangan untuk Jangka Panjang.  

Juara sejati bukan yang menang hari ini saja, tapi yang menyiapkan kemenangan 20 tahun ke depan. Karena itu penataan pertambangan dan eksplorasi untuk menambah additional reserves menjadi prioritas.

PNBP dari sektor tambang dan migas ditingkatkan, bukan dengan menaikkan tarif, tapi dengan menertibkan tata kelola, menutup kebocoran, dan mempercepat investasi hulu. 414 SPPG fiktif yang dikembalikan ke kas negara adalah contohnya.

Menambah cadangan adalah bentuk intergenerational equity. Kita tidak boleh menghabiskan warisan energi hari ini tanpa menyiapkan untuk anak cucu. 

Pendekatan ini juga sejalan dengan teori resource curse prevention. Negara kaya sumber daya sering jatuh karena kelolaannya buruk. Dengan transparansi, digitalisasi, dan profesionalisasi BUMN/Badan seperti BGN, maka sumber daya berubah dari kutukan menjadi berkah.

4. HSSE: Standar Keamanan sebagai Fondasi Kepercayaan Publik.

Sehebat apapun programnya, kalau tidak aman maka publik tidak akan percaya. Karena itu HSSE Health, Safety, Security, Environment menjadi non-negosiasi. 

Mulai dari standar keamanan pangan Program MBG, standar kilang, standar PLTS, sampai perlindungan bagi nelayan dan pekerja lapangan. Pemerintah menegaskan: tidak ada pertumbuhan yang boleh mengorbankan keselamatan.

HSSE adalah bentuk good governance di sektor riil. Dalam teori manajemen risiko, kecelakaan dan pelanggaran standar adalah “biaya tersembunyi” yang paling mahal. Satu insiden bisa menghapus kepercayaan publik selama 10 tahun.

Dengan menempatkan HSSE sebagai pilar, pemerintah membangun social license to operate. Rakyat percaya, investor masuk, dan program prioritas seperti MBG, Koperasi Desa, dan SNT bisa berjalan lebih cepat karena tidak ada resistensi.

Dari Bertahan ke Memimpin
Empat pilar ini saling menguatkan. EBTDA memberi masa depan. Oil & Gas menjaga hari ini. Additional Reserves menjamin 20 tahun ke depan. HSSE memastikan semuanya berjalan aman dan dipercaya.

Dengan interaksi kebijakan yang solid dan memprioritaskan kemampuan ekonomi nasional, Indonesia membuktikan satu hal yaitu kita tidak hanya bertahan dari guncangan. Kita beradaptasi, kita berbenah, dan kita keluar sebagai juara.

Tantangan ke depan masih ada. Harga global masih fluktuatif, geopolitik masih panas. Tapi fondasinya sudah diletakkan. Tinggal kita kawal bersama, agar energi untuk rakyat benar-benar sampai ke rakyat. Dan agar Indonesia Emas 2045 bukan sekadar slogan, tapi hasil kerja hari ini.

Iklan

iklan