Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Ferry Koto: Presidential Threshold 0% dan Perlunya Kekuatan Sipil, dan Kekuatan Rakyat Mulai Mengkonsolidasi Diri

23 Jul 2026, Juli 23, 2026 WIB Last Updated 2026-07-23T11:18:55Z
SELAKSA.ID Perlunya kekuatan sipil menyorongkan calon yang diinginkan rakyat karena memang paham persoalan rakyat, tidak sekedar memilih calon yang disorongkan Elit parpol, yang sudah berkongkalingkong hanya demi kepentingan elit.

Mas Pram ini bagus, menurut penilaian saya, dari informasi yang saya terima dan lihat. Tapi, apakah dia akan diusung PDIP nanti di Pilpres 2029? Belum tentu. 

Karena bagus saja tidak cukup bagi parpol, paham soal rakyat dan mau bekerja untuk rakyat saja ndak cukup. Ada kepentingan elit, dan kongkalingkongnya yang bisa membuat mas Pram ini tidak akan pernah diusung. Walau mungkin diinginkan rakyat.

Pemimpin, tokoh-tokoh bagus itu, tidak kurang di Indonesia. Di Jatim saja bisa banyak saya sorongkan. Tapi sistem politik dan aturan yang selama ini ada, membuat tembok tebal menghalangi pemimpin atau tokoh yang bagus ini duduk di kekuasaan. Presidential threshold 0% ini adalah peluang.

Jika kekuatan sipil mampu mengkonsolidasi diri, tak hanya puas berjuang sendiri, hanya ego sendiri, tak mudah dibujuki dengan janji, maka saya yakin bisa menyorong calon yang betul-betul bisa membawa aspirasi dan memperjuangkannya saat berkuasa.

Sekedar contoh, Jokowi adalah produk kepemimpinan, yang awalnya, disorong oleh kekuatan sipil. Saya ingat tahun-tahun awal 2009 sampai 2012 beliau acap diundang dan berdiskusi dengan kekuataan sipil. Ke Surabaya beberapa kali kita diskusi, dan yakin dia akan membawa perubahan.

Sayangnya, kekuatan sipil yang dulu menyorongkan Jokowi dan bisa memaksa PDIP mencalonkannya, hanya sampai sebatas pintu kekuasaan. Ini problemnya, setelah menyorongkan calon pemimpin, lantas membiarkan mereka kembali hanya dikuasai parpol dan elit. Amsiong lah kemudian, sehingga beberapa tidak seperti yang diharapkan.

Iklan

iklan