Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Hasto: NU Jangan Ditarik ke Kepentingan Politik Praktis

24 Jul 2026, Juli 24, 2026 WIB Last Updated 2026-07-24T14:13:06Z
SELAKSA.ID Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto, menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) tidak boleh dilibatkan dalam tarik-menarik kepentingan politik praktis demi ambisi kekuasaan. Hasto menjelaskan, organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut memiliki peran strategis sebagai penjaga corl moral kehidupan bangsa dan tidak menjadi objek perebutan pengaruh politik.

Sebagaimana di kutip dari akun media sosial X Guntur Romli, bahwa Hasto menyampaikan pernyataan tersebut saat menjadi pembicara dalam acara Room Diskusi Serial 7 NU Masa Depan & Masa Depan NU yang diselenggarakan Yayasan Talibuana Nusantara di Jakarta Selatan, Jumat 24 juli 2026.

"NU terlalu besar untuk dilibatkan dalam tarik-menarik kepentingan politik praktis. Jangan pernah coba-coba memecah belah NU demi ambisi kekuasaan. NU itu milik Indonesia dan dunia yang ditakdirkan dengan jiwa keislaman serta konsepsi pemikiran yang luar biasa," Ungkap Hasto Kristiyanto Sekjen PDIP saat menjadi pembicara diskusi pada acara Room Diskusi Serial 7 NU Masa Depan & Masa Depan NU: digelar Yayasan Talibuana Nusantara di Jakarta Selatan, Jumat (24/7/2026).

Pada kesempatan itu, SEKJEN partai lambang Banteng menyoroti identitas dan sejarah perjuangan NU dalam sejarah bangsa Indonesia. Ia menilai simbol dan nilai-nilai yang diusung NU mencerminkan visi kebangsaan yang kuat sekaligus relevan dengan perkembangan zaman.

“Logo NU sangat membumi, visioner dan futuristik. Apalagi dengan kontribusi patriotismenya melalui Resolusi Jihad di dalam perjuangan mengusir bala tentara Sekutu yang ditunggangi NICA untuk menjajah kembali Indonesia," jelas Hasto. 

Di tengah pembicaraannya, Hasto menegaskan pentingnya menjaga semangat Khittah 1926 sebagai landasan ideologis dan moral bagi NU. Menurutnya, prinsip tersebut dapat menjadi benteng agar para elite organisasi tidak terjebak dalam dinamika politik praktis yang berpotensi menggerus independensi NU

"Kembali ke Khittah 1926 adalah benteng ideologis dan moral agar elit NU tidak ikut dalam tarik-menarik kepentingan politik praktis. Siapa pun yang mencoba mengooptasi atau memecah belah NU demi ambisi kuasa akan menerima karma politik dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Mari kita jadikan NU sebagai penjaga moral, pembawa kerukunan, kebenaran, keadilan, dan pencerah bagi bangsa di tengah berbagai kegelapan yang terjadi saat ini," tuturnya Hasto.

Iklan

iklan