SELAKSA.ID — Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, menyoroti perubahan radikal dalam ekosistem pembelajaran saat ini. Menurutnya, monopoli pengetahuan yang dulu hanya ada di kampus kini sudah bergeser karena informasi dan sains bisa diakses dari mana saja.
Pernyataan tersebut ia sampaikan pada dialog publik oleh kampus UI saat menghadiri acara Temu Akbar Guru Besar UI Tahun 2026, Rabu (12/8).
"Dulu kita datang ke kampus bertemu dengan dosen, kita ketemu dengan dewanya pengetahuan. Tokoh-tokoh pengetahuan dan kita harus datang ke mereka. Sebagai dosen sebagai guru besar adalah pemegang monopoli pengetahuan. Adanya di kampus, mahasiswa harus datang ke kampus," ujar Rhenald dalam forum diskusi pada Rabu (12/8/2026).
"Apa yang terjadi hari ini? Hari ini terjadi adalah pengetahuan ada di mana-mana," lanjutnya.
Rhenald mencontohkan bagaimana perkembangan sains dan teknologi, hingga kehadiran AI, membuat cara belajar berubah. Ia menyebut AI sebagai alat bantu yang justru harus diajarkan cara penggunaannya kepada mahasiswa.
"Yang diperlukan adalah mengajarkan bagaimana mereka mengkurasi pengetahuan, memilah mana pengetahuan yang benar mana yang kurang benar. Sementara kita marah ketika mahasiswa kita menggunakan AI, padahal AI adalah alat bantu," katanya.
Ia juga menyinggung soal pandemi yang memaksa perubahan besar, termasuk di dunia kedokteran. Profesi dokter yang awalnya menolak telemedicine, akhirnya melakukannya karena kondisi memaksa.
"Pandemi telah mengubah perilaku kita. Dokter mulai melayani telemedicine, nenek-nenek melakukan Zoom, mahasiswa kemudian menggunakan Google Meet dan seterusnya. Lalu kemudian post pandemi kita kembali lagi keluar ruang, dunia hybrid," jelasnya.
Dalam kesempatan itu Rhenald juga menyinggung pernyataan Presiden Prabowo terkait pendidikan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
"Presiden Prabowo kemarin menyebut Bahlil pendidikannya tak jelas. Tetapi begitulah ya saudara sudah tahu ya," ucapnya.
Namun Rhenald menekankan, poin pentingnya bukan pada latar belakang pendidikan formal. Ia mencontohkan seorang anak muda lulusan hafiz Quran asal Kalimantan yang berhasil menciptakan produk keratin dan sudah dipatenkan di Amerika Serikat.
"Saya bingung, 'Sekolah kamu apa?' 'Saya hafiz Quran.' Hafiz Quran kamu bikin seperti ini. Kita akademisi sering kali melihat orang dari rumpun ilmu. Ternyata tim saya menemukan anak ini adalah jenius dan pembaca jurnal dan dia berhasil membuat produk itu. Sekarang kami patenkan di Amerika, kami bikin perusahaannya di Delaware," tuturnya.
Menurut Rhenald, saat ini disrupsi sudah masuk babak baru. Setelah gelombang digital, platform, pandemi, kini ditambah dengan sosial media yang membentuk komunitas dan identitas kaum muda.
"Pengetahuan ada di mana-mana. Pertanyaannya adalah apa yang harus kita berikan dalam mengajar? Apakah kita masih menjadi pihak yang berwenang dan terus hanya memberikan pengetahuan kepada para mahasiswa? Karena dengan begitu ini adalah kesempatan agar mahasiswa menjadi belajar lebih dalam," pungkasnya.