Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Refleksi Mustamin tentang Masa Depan IPMDB

31 Okt 2026, Oktober 31, 2026 WIB Last Updated 2026-11-01T06:04:09Z
Drs. H. Mustamin M.Si, Dewan Syuroh IPMDB
SELAKSA.ID Perjalanan seorang kader tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu berkelindan dengan sejarah organisasi yang membesarkannya, dengan nilai-nilai yang ditanamkan oleh para pendiri, serta dengan konteks sosial politik pada zamannya. Demikian pula perjalanan H. Mustamin, salah satu kader IPMDB yang berhasil menembus lingkaran inti pemerintahan Republik Indonesia, tidak dapat dilepaskan dari napak tilas perjuangan Ikatan Pelajar Mahasiswa Donggo Bima (IPMDB).

Kisah hidupnya menjadi bukti empiris bahwa IPMDB bukan sekadar organisasi kedaerahan, melainkan sekolah kehidupan yang melahirkan kader-kader yang memiliki keteguhan, keistiqamahan, dan komitmen terhadap perjuangan kolektif.

Dari Doriga Menuju Ring Satu Istana: Sebuah Napak Tilas

H. Mustamin berasal dari Doriga, Kampung Mangenae, Donggo. Pendidikan dasarnya ditempuh di SDN Donggo, SMP di Bajo, dan SMA di Sila. Pada tanggal 21 Juli 1989, ia hijrah ke Jakarta. Hijrah tersebut bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan awal dari sebuah proses pembelajaran yang panjang.

Selama tiga tahun di Jakarta, ia belajar dan bergabung dengan Dr. H. Gazali dan para pendiri IPMDB. Proses tersebut menjadi fondasi pembentukan karakter dan wawasan organisasinya.

Pada bulan November 1995, ia masuk ke Sekretariat Negara. Ia menjadi satu-satunya orang Donggo yang berada di Setneg, di lingkungan Istana, di ring satu pemerintahan. Posisi tersebut bukan diperoleh secara tiba-tiba. Ia diperoleh melalui proses yang panjang, melalui kesabaran, ketekunan, dan keistiqamahan dalam berorganisasi.

Pada saat itu, posisinya adalah sebagai pegawai yang memproses naturalisasi pewarganegaraan bagi keturunan Cina, India, dan Arab yang ingin menjadi Warga Negara Indonesia. Tugas tersebut memiliki makna simbolis yang sangat dalam. Seorang anak dari Donggo, yang berasal dari kampung yang jauh dari pusat kekuasaan, justru diberi amanah untuk memproses kewarganegaraan bagi mereka yang ingin menjadi bagian dari Indonesia.

Proses inilah yang kemudian menjadi sumber motivasi untuk menjaga IPMDB agar tetap hidup sampai kapan pun. Keistiqamahan terhadap IPMDB dipahami sebagai bentuk kesetiaan terhadap jalan perjuangan yang telah membawanya sampai pada titik tersebut.

Keterbatasan Pendidikan Formal dan Kekuatan Pendidikan Organisasi

Satu hal yang perlu digarisbawahi dari kisah tersebut adalah bahwa H. Mustamin masuk ke Setneg hanya dengan ijazah SMA. Orang tuanya telah menyampaikan kepada sepuluh anaknya, enam di antaranya yang hidup, bahwa pendidikan yang akan diberikan hanya sampai S3. S3 yang dimaksud bukanlah Doktor, melainkan SD, SMP, SMA. Setelah itu, masing-masing harus mencari jalan sendiri.

Kondisi tersebut menggambarkan realitas generasi pendiri IPMDB. Pada masa itu, jarang sekali orang Donggo yang sampai pada jenjang sarjana. Para tokoh seperti Haji Hamzah Hasan dan Pak Edi Hasan hanya setara SMA, dengan latar belakang pendidikan guru, SPG. Keterbatasan akses pendidikan pada masa itu merupakan konsekuensi dari kondisi sosial ekonomi dan politik yang belum memungkinkan.

Namun, keterbatasan pendidikan formal tersebut tidak menghalangi lahirnya kader-kader yang memiliki wawasan organisasi yang luar biasa. Pendidikan organisasi, pembinaan akidah, dan pengalaman perjuangan menjadi pengganti dari pendidikan formal yang terbatas.

Kini, situasinya telah berubah secara fundamental. Anak-anak Donggo telah banyak yang meraih gelar doktor, magister, dan sarjana. Potensi sumber daya manusia tersebut merupakan modal yang sangat besar bagi penerus perjalanan IPMDB. Generasi saat ini tidak lagi memiliki alasan keterbatasan akses pendidikan. Yang dibutuhkan adalah arahan dari Dewan Suro, pembina, dan penasihat agar potensi tersebut dapat berjalan pada jalur yang benar.

Menolak Stigma Hidup Segan, Mati Tak Mau

Dalam pidato Ketua Umum IPMDB, terdapat ungkapan yang sangat tajam, yakni IPMDB dalam kondisi hidup segan, mati tak mau. Ungkapan tersebut menggambarkan kondisi organisasi yang berada dalam kevakuman, tidak hidup secara optimal, namun juga tidak mati secara total.

Ungkapan tersebut harus dikubur dalam-dalam. IPMDB tidak boleh lagi berada dalam kondisi tersebut. Yang harus diperjuangkan saat ini adalah bagaimana IPMDB dapat berkibar paling tinggi di langit Indonesia.

Fasilitas dan potensi untuk mencapai hal tersebut telah tersedia. Sumber daya manusia telah ada, jaringan telah terbangun, dan pengalaman sejarah telah dimiliki. Tinggal bagaimana kemauan kolektif untuk membawa IPMDB menuju puncak tertingginya.

Nabi Ibrahim, Seruan, dan Strategi Pengemasan Gerakan

Dalam merumuskan strategi kebangkitan IPMDB, digunakan analogi doa Nabi Ibrahim di depan Ka'bah. Nabi Ibrahim memanggil umat Islam, memanggil anak cucu Adam, untuk melakukan napak tilas dan beribadah di Baitullah. Seruan tersebut bergema melintasi zaman dan ruang, hingga mampu menggerakkan jutaan manusia.

Analogi tersebut sangat relevan untuk IPMDB. Pertanyaannya adalah bagaimana mengemas IPMDB sehingga seruannya dapat didengar, dipahami, dan diikuti oleh generasi muda Donggo. Apa yang harus dilakukan, apa yang harus diwujudkan, merupakan pekerjaan rumah bersama yang harus dipikirkan secara sistematis.

IPMDB harus mampu menjadi motor pergerakan. Sebagai organisasi tertua, IPMDB memiliki legitimasi historis untuk memberikan masukan, saran, dan kritik konstruktif kepada pemerintah. Apabila pemerintah memiliki kekurangan, IPMDB harus berani memberikan masukan melalui benderanya, melalui jalur organisasi yang sah dan bermartabat.

Amal Makruf Nahi Mungkar, Bukan Pemberontakan

Salah satu kesalahpahaman historis yang perlu diluruskan adalah makna perjuangan IPMDB pada masa Orde Baru. Pada masa itu, IPMDB dicap sebagai organisasi yang melakukan perlawanan terhadap pemerintah. Padahal, yang diperjuangkan oleh IPMDB adalah _amar makruf nahi mungkar_, yakni mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran, mencegah orang berbuat kezaliman, dan mengajak orang untuk memperbaiki hal-hal yang tidak pada tempatnya.

Tujuan tersebut bukanlah pemberontakan. Namun, pemerintah pada masa itu menangkapnya sebagai perlawanan. Hal ini merupakan bentuk pembelokan narasi yang terjadi pada zaman kekuasaan militer. Pada masa itu, setiap nasihat dan kritik dianggap sebagai perlawanan, padahal yang dilakukan adalah upaya perbaikan sesuai fitrah.

Pelurusan narasi ini sangat penting. IPMDB adalah organisasi yang melakukan reformasi pertama di Indonesia pada zaman pemerintahan Soeharto. Reformasi tersebut bukan dalam bentuk kekerasan, melainkan dalam bentuk koreksi moral dan intelektual terhadap kekuasaan yang zalim. Jika pemerintah pada masa itu mampu menerima pencerahan dan nasihat, maka perjuangan tersebut tidak akan dianggap sebagai pemberontakan.

Kaderisasi sebagai Amal Jariyah

Di hadapan generasi muda yang memiliki pendidikan tinggi, dengan jurusan yang beragam, intelijensi yang luar biasa, keberanian yang luar biasa, dan wawasan organisasi yang luar biasa, maka saat inilah tongkat estafet harus diserahkan dengan baik.

Penyerahan tongkat estafet tersebut bukan sekadar seremonial organisasi. Ia memiliki dimensi spiritual yang sangat dalam. Apabila kaderisasi dilakukan dengan baik, maka apa yang menjadi mimpi para pendiri, Dewan Pendiri yang telah almarhum, akan terus mengalir pahalanya. Amal kebaikan tersebut akan menjadi amal jariyah yang menolong mereka di alam kubur, menjadi lampu penerang dalam kehidupan akhirat.

Dengan demikian, kaderisasi bukan hanya persoalan regenerasi organisasi, melainkan juga persoalan keberlanjutan amal. Setiap kader yang dibina, setiap program yang dijalankan, setiap kontribusi yang diberikan kepada masyarakat, merupakan kelanjutan dari perjuangan para pendiri.

Dari Ring Satu Menuju Puncak Indonesia

Kisah H. Mustamin dari Doriga hingga Ring Satu Istana membuktikan bahwa IPMDB mampu melahirkan kader yang dapat berdiri di pusat kekuasaan nasional. Namun, keberhasilan individu tersebut tidak boleh berhenti pada level personal.

Keberhasilan tersebut harus ditransformasikan menjadi keberhasilan kolektif organisasi. IPMDB harus kembali menjadi organisasi yang mampu memberikan sumbang saran bagi bangsa, menjadi motor pergerakan intelektual, dan menjadi wadah pembinaan bagi generasi muda Donggo.

Jika kaderisasi dilakukan secara serius, jika narasi perjuangan diluruskan, dan jika seruan kebangkitan dikemas dengan baik, maka IPMDB tidak hanya akan hidup kembali, melainkan akan berkibar paling tinggi di langit Indonesia.

Iklan

iklan