![]() |
| Andi Sukmono, Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia |
SELAKSA.ID - Disinformasi tidak selalu lahir dari niat jahat untuk memalsukan informasi. Ia juga tumbuh dari kebiasaan menyebarkan kabar yang belum diklarifikasi dan belum ditabayyun, tetapi ikut dibicarakan.
Pesan itu disampaikan Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Andi Sukmono, dalam Talk Show Literasi Digital bertajuk "Waspada Deepfake dan AI: Menjaga Integritas Informasi dan Ketahanan Digital Perempuan di Era Baru" yang digelar Kohati PB HMI bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi menggelar Talk show literasi digital yang dihadiri oleh Andi Sukomono KPI (Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Pusat, dr Jamaluddin Lukman ( Dokter Umum), Fatih Seida (Direktur Eksekutif LTMI PB HMI) pada Tanggal 27 Oktober 2026.
Andi mengawali pemaparannya dengan merujuk pada QS An-Nur ayat 19. Menurut dia, ayat tersebut menjadi fondasi penting dalam membahas etika digital dari perspektif Islam, karena secara tegas melarang penyebaran fitnah dan segala bentuk informasi bohong.
Ia mengingatkan, asbabun nuzul ayat itu berkaitan dengan peristiwa fitnah yang menimpa Aisyah RA. Dalam sebuah perjalanan perang, Aisyah tertinggal dari rombongan, lalu difitnah berselingkuh dengan orang lain. Rumor tersebut berkembang selama lebih dari satu bulan.
"Sebulan lebih situasi itu dialami oleh Aisyah," kata Andi.
Ia menambahkan, Nabi Muhammad SAW pun diam atas peristiwa itu karena beliau tidak tahu harus memutuskan apa. Kemudian turunlah firman itu sebagai penegasan.
"Bagi kita, basis diskusi dalam perspektif Islam, salah satunya adalah bahwa mengeluarkan fitnah dan segala macam itu dilarang dalam Islam," ujarnya.
Dari peristiwa tersebut, Andi mengajak peserta untuk memahami bahwa di era digital, tabayyun menjadi kewajiban yang semakin mendesak. Teknologi deepfake dan kecerdasan buatan (AI) membuat informasi palsu tampak semakin meyakinkan, sehingga verifikasi tidak lagi bisa ditawar.
Andi kemudian mengajak peserta menelusuri kembali sejarah media. Menurut dia, kajian media bisa ditelusuri sejak orang melukis di dinding gua.
"Dari situlah kemudian ditemukan aksara, ditemukan kertas, mesin cetak, elektronik, kemudian internet sampai hari ini," pungkasnya.
Semua itu, lanjut Andi, merupakan cara manusia untuk menerjemahkan apa yang ada di dalam dirinya. Dengan cara itulah manusia bertumbuh dan berkembang beserta inovasinya untuk berinteraksi, untuk saling membagi pengetahuan, dan untuk bisa saling memahami.
Namun, karakter media hari ini telah berubah secara mendasar. Jika dahulu seseorang membutuhkan institusi media untuk menyampaikan informasi, kini tidak lagi.
"Karakteristik media hari ini bisa dikonsentrasikan menjadi realitas satu orang satu media. Dulu orang butuh institusi media untuk menyampaikan informasi, sekarang tidak perlu lagi," tambahnya.
Ia mencontohkan, handphone yang dipegang setiap orang kini sudah berfungsi ganda. Handphone kita bisa berfungsi sebagai studio, bisa berfungsi sebagai akun, bisa berfungsi sebagai media. Setiap unggahan publik kita itu bisa berarti penyiaran.
Perubahan itu, menurut Andi, tidak bisa dilepaskan dari struktur platform digital saat ini. Struktur platform itu digerakkan oleh data dan algoritma.
Karena itu, ia menilai, ketahanan digital perempuan menjadi penting. Perempuan tidak hanya menjadi pengguna media, tetapi juga penjaga pertama integritas informasi di keluarga dan lingkungannya. Tanpa kemampuan memilah informasi, tabayyun, dan memahami cara kerja platform, ruang digital akan semakin mudah dipenuhi disinformasi, fitnah, dan manipulasi berbasis deepfake serta AI.
