![]() |
| Andi Sukmono, Komisioner KPI Pusat |
Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu Andi Sukmono, Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, dr. Jamaluddin Lukman, Dokter Umum, dan Fatih Seida, Direktur Eksekutif LTMI PB HMI.
Dalam pemaparannya, Andi menegaskan bahwa diskusi digital, apapun terminologinya, baik itu literasi digital, literasi penyiaran, literasi media dan seterusnya, bisa didiskusikan dalam banyak perspektif.
"Ada perspektif media, ada perspektif regulasi, ada perspektif Pancasila, juga ada perspektif Islam di situ," ujar Andi di hadapan peserta.
Menurutnya, jika diskusi tentang literasi digital ingin serius, perspektif Islam menjadi salah satu fondasi yang tidak boleh ditinggalkan. Salah satu dasar terkuatnya adalah QS An-Nur ayat 19.
"QS An-Nur ayat 19 itu soal fitnah, soal hoaks, dan seterusnya," jelasnya.
Andi mengingatkan, orang yang suka menyebarkan disinformasi itu akan mendapatkan akibatnya bukan hanya di akhirat, tetapi juga di dunia. Saking seriusnya persoalan ini, Allah menurunkan ayat tersebut dalam konteks peristiwa yang sangat berat.
"Asbabun nuzul ayat itu adalah kasus yang dialami oleh Aisyah RA," katanya.
Ia menceritakan, dalam salah satu perang, Aisyah tertinggal dari rombongan, kemudian difitnah berselingkuh dengan orang lain. Hampir satu bulan lebih rumor itu berkembang dan menjadi pembicaraan di tengah masyarakat.
Peristiwa itu, menurut Andi, menjadi gambaran paling nyata tentang bahaya disinformasi di era digital saat ini.
"Disinformasi adalah informasi yang tidak benar yang kemudian sengaja disebarkan untuk niat yang tidak baik," tegasnya.
Selain itu, disinformasi juga bisa berbentuk informasi yang tidak benar yang tidak diklarifikasi dan tidak ditabayyun, tetapi justru ikut dibicarakan dan disebarluaskan.
Andi menilai, pola inilah yang kini semakin marak di ruang digital, terutama dengan hadirnya teknologi deepfake dan kecerdasan buatan (AI). Informasi yang tampak meyakinkan secara visual dan audio bisa saja merupakan rekayasa yang bertujuan menyesatkan publik.
Karena itu, ia mengajak peserta, khususnya perempuan sebagai penjaga pertama ketahanan digital keluarga, untuk lebih berhati-hati dalam menerima dan menyebarkan informasi.
Talk show ini diharapkan menjadi ruang edukasi agar kader perempuan HMI dan peserta lainnya mampu menjaga integritas informasi, memperkuat tabayyun, dan membangun ketahanan digital di tengah derasnya arus deepfake dan AI.
