Manusia
sebagai subjek yang hidup, baik secara individu maupun secara sosial
membayangkan dunia ideal, dimana bayangan dunia masa depan sebagai tempat
kelanjutan eksistensial.
Manusia punya eutophia tentang kesempurnaan masa
depan merupakan naluri yang tidak terpisahkan dalam dirinya (personality),
itulah alasan kenapa aktivitas manusia sejak dimulainya kehidupan terobsesi
dengan kesenangan sehingga terjadi banyak terjadi revolusi, baik revolusi
sosial sampai revolusi industri.
Sejak revolusi industri, narasi besar muncul
bahwa sejarah selalu bergerak maju, teknologi maju, harapan hidup tumbuh,
ekonomi membaik dan tatanan sosial membaik. Narasi ini seolah-olah peradaban
selalu linear dengan kemauan manusia. Namun, Lagi-lagi sejarah tidak menjamin
itu terjadi.
Berkali-kali masyarakat setelah kuat dan mapan justru terjadi
keruntuhan secara perlahan tanpa disadari, hal tersebut secara konsesptual
diungkapkan oleh jared Diamond, ilmuan dan pengarang Amerika mengatakan
keruntuhan peradaban bukan hanya hancurnya bangunan dan negara yang bubar,
peradaban juga hancur karena penduduk yang merosot drastis, ekonomi tidak
terkendali, masyarakat yang terorganisis kacau dan pemerintah yang kehilangan
kendali. Kemudian kondisi tersebut tidak membaik dalam waktu semalam melainkan
perlahan membaik dari generasi ke generasi.
Selama ribuan tahun, manusia hidup berdampingan
dengan bencana, baik wabah penyakit, kelaparan, krisis ekonomi, dan perang. Ini
bukan tragedi langkah melainkan siklus hidup manusia, kerajaan sebuah negara
bangkit dengan cepat dan runtuh dengan cepat pula, ketidakpastian dan
Kemungkinan terjadi tampa bisa diprediksi sebagai geneologi warisan krisis
nenek moyang manusia. hal ini normal mengingat sebagai akibat dari proses
aktivitas sosial.
Ketika dua abad lalu arah sejarah berubah mesin uap
ditemukan, produksi massal lahir, pengetahuan berkembang dengan kecepatan yang
belum pernah terjadi sebelumnya. Sejak saat itu lahir narasi besar bahwa nasib
manusia akan membaik dari masa lalu. Sejarawan ekonomi, Joel moyker.
Gerakan kultural adalah salah satu sebuah
aktifitas penting dalam perubahan sosial, jika manusia menginginkan sebuah
perubahan, maka perubahan kultural bisa saja datang dari berbagai faktor
seperti diskusi, value, bahasa, simbol, seni, pola pikir, media dan kebiasaan
masyarakat. Ketika menengok sejarah peradaban dunia, perubahan besar seperti
revolusi selalu didahului oleh perubahan budaya, misalnya Renaisance pada abad
pertengahan.
Pandangan ini memberikan metodologi berpikir
koheren dari konsep, historis, strategi dan praktik konkrit lapangan. Sebelum
kita memahami lebih jauh sejarah, strategi dan Praktik gerakan kultural
terlebih dahulu kita memahami pengertiannya. Gerakan kultural adalah proses
perubahan sosial yang dilakukan lewat pengaruh budaya, nilai, simbol, bahasa,
pendidikan, seni, kebiasaan hidup masyarakat. Konsep gerakan kultural dalam
banyak peristiwa sejarah tidak selalu melalui jalur formal, kebanyakan terjadi
lewat jalur informal yang membentuk kesadaran kolektif masyarakat secara
involutif.
Gerakan ini hadir dalam berbagai bentuk, ada
yang dibangun dalam kegiatan literas, pendidikan, identitas, seni, keagamaan,
adat, dan identitas. Gerakan kultural bertujuan untuk membangun
kesadaran kolektif, pandangan bersama dapat mendorong perubahan sosial secara
luas yang bergantung pada kualitas dan kuantitas. Jika perubahannya cepat, maka
gerakan tersebut terdapat kualitas yang baik. Secara kuantitas tidak selalu
memberikan efek jika gerakan tidak punya basis yang jelas. seperti basis nilai,
budaya, manfaat jangka panjang, pembentuk kesadaran dan fleksibilitas:
1. Nilai
Gerakan kultural berangkat dari nilai, sebuah
entitas yang diperjuangkan yang dianggap sakral untuk membentuk ide masa depan
bersama misalnya keadilan, kemanusiaan, dan kebebasan.
2. Budaya
Gerakan kultural berangkat dari aspek budaya,
ini sebuah alat pemersatu karena adanya kesamaan budaya yang berlaku dalam
komunal. Kelompok masyarakat yang memiliki kesamaan budaya cenderung memikirkan
pandangan konservatif, mereka menginginkan perubahan yang berbasis pada
kearifan tampa meninggalkan identitas.
3.
Kesadaran
Gerakan kultural basisnya kesadaran, sebuah
aktifitas perubahan eksistensial yang merubah pandangan lama ke pandangan baru.
Dari berbagai macam penjelasan di atas, maka
kita bisa melihat lagi bagaimana gerakan kultural dalam peradaban manusia,
contohnya Renaisance di Eropa yang menjadi tonggak sejarah moment penting bagi
umat manusia sampai pada tahap kita mengenal efek perubahan tersebut. Pada masa
renaisance, pemikiran berkembang terjadi khususnya eropa seperti pemikiran
humanisme, ilmu pengetahuan, seni, dan kebebasan berpikir.
Orang seperti Leonardo da vinci bukan hanya
sebagai subjek penggerak sejarah, melainkan sebagai simbol lahirnya dunia
rasional. Selain gerakan renaisans, ada juga gerakan pencerahan yang disebut
enlightenment, sebuah gerakan yang menekankan aspek rasionalitas, kebebasan
berpikir, dan kebebasan individu. Gerakan-gerakan ini pada akhirnya
mempengaruhi lanskap pemikiran eropa dan amerika.
Melihat peradaban eropa dan amerika sekarang,
maka kita akan menengok lagi masa lalu yang menjadi pelaku gerakan, orang
seperti jhon locke, Voltaire, montesqiu, jacques Rousseau telah menjadi sesuatu
yang tidak terpisahkan dari peradaban modern eropa dan amerika.
Selain renaisans, ada gerakan kultural yang
disebut gerakan hak sipil di Amerika Pada abad ke-20. Melihat gerakan kultural
di ini, kita dapat mengerti bagaimana sebuah entitas budaya mempengaruhi
menjadi alat perubahan sosial dan perjuangan, baik lewat seni, simbol, pidato,
dan sastra untuk melawan diskriminasi ras.
Tokoh-tokoh penting yang menjadi bagian dari
monument ini orang seperti Martin Luther King Jr, malcom x, dan Rosa Parks. Dari semua bentuk rangkaian
peristiwa sejarah.
Gerakan mahasiswa tahun 1968 di Prancis
khususnya dan negara lain pada umumnya menunjukkan anak muda dapat menjadi
sebuah entitas kekuatan politik, media gerakan seperti musik, dan diskusi
kampus menjadi bagian penting dalam gerakan.
Selain dari itu, Indonesia juga punya sejarah
dalam gerakan kultural ketika massa kolonial, gerakan kultural hadir melalui
pendidikan, pers, sastra, dan organisasi kepemudaan. Tokoh yang terlibat dalam
gerakan itu misalnya kihajar dewantara yang menggunakan pendidikan sebagai alat
pembebasan, selain itu ada organisasi budi Utomo dan sarekat Islam yang
menggunakan pendekatan budaya dan sosial kemasyarakatan.
Peristiwa Sumpah
pemuda yang di dalamnya ada bahasa, dan persatuan tanah air menjadi corak
menonjol, bahkan sastrawan modern khairil anwar dan Pramoedya Ananta Toer
terlibat membentuk satu identitas nasional. Gerakan kultural pasca kemerdekaan,
misalnya discourse tentang antar kelompok yang ingin menekankan seni, rakyat,
nasionalisme, dan kebebasan ekspresi.
Reformasi 1998 merupakan contoh konkrit dalam gerakan Indonesia,
tuntutan terhadap otoritarianisme berpindah ke reformasi, sebuah aktifitas yang
dilakukan masyarakat sipil dalam merubah arah bangsa yang kita nikmati
sekarang. Warisan gerakan tersebut bisa menjadi cort prisncipil untuk mahasiswa
ketika menginginkan perubahan sosial, rasionalitas yang memungkinkan jika
menginginkan perubahan.
Mahasiswa yang saat ini terlibat dalam percaturan
peradaban perlu memberikan kontribusi nilai relevan dalam era dimana arus
kecerdasan buatan menghegemoni dimensi kehidupan. Merumuskan nilai yang relevan
pada era teknologi adalah sebuah metode untuk membentuk identitas, apalagi
mahasiswa punya massa yang terorganisis dan memiliki budaya literasi.