SELAKSA.ID ekonomi ekonomi global kekinian sedang berada pada tahap turbulensi yang dipetakan dan diprediksi. Dinamika geopolitik yang tidak memiliki kepastian tersebut hampir melanda di berbagai belahan negara, perubahan harga komoditas seperti energi, serta kebijakan suku bunga tinggi dari bank-bank sentral negara maju menjadi variabel campuran yang menekan pertumbuhan ekonomi suatu bangsa khususnya Indonesia.
Indonesia sebagai entitas negara dengan sistem ekonomi terbuka, kita tidak memiliki imunitas terhadap pergolakan yang berasal dari faktoreksternal ini. Ambiguitas ruang lingkup global secara evolutif bahkan potensial radikal mulai merambat masuk dan menekan pilar-pilar makroekonomi nasional yang selama ini resiliens.
Dampak faktual dari ketidakpastian global tersebut terlihat pada sektor neraca perdagangan dan kurs nilai tukar. Pelemahan daya beli di negara-negara mitra Indonesia seperti China, Uni Eropa sehingga menahan laju ekspor andalan Indonesia sperti batubaradan CPO. sementara perspektif lain juga mengindikasikan fenomena pelarian modal ke aset yang lebih aman mengakibatkan tekanan psikologis yang disebut sebagai depresiasi terhadap value rupiah.
Indikator lemahnya nilai rupiah tersebut menjadi faktor fundamental seperti pisau bermata dua, yaitu realitas ekonomi ini buka hanya mempersulit sektir industri nasional yang pada dasarnya membebani impor bahan baku, melainkan membebani beban pembayaran utang luar negeri.
Inilah yang digambarkan sebagai tekanan eksternal, tekanan ini selanjutnya bertransisi ke sektor riil domestik yang kita kenal dalam prinsip ekonomi dengan dalih "imported inflation" yaitu Ketika nilai barang seperti pangan dan energi dunia melewati batas rasionalitas pasar apalagi diperparah dengan kurs rupiah yang melemah, tentu biaya produksi di regional otomatis besar.
Produsen sebagai pelaku industri tidak mampu menyerap kenaikan biaya sshingga produsen pada tahap ini dengan terpaksa membebankan selisih harga kepada konsumen. Efeknya, inflasi beejalan naik, kemudian mulai menguras daya beli masyarakat middel cllas dan masyarakat miskin, yang selama ini menjadi mobilitas utama growth ekonomi lewat konsumsi rumah tangga.
Ketika situasi pelik tersebut dihadapi, integarasi pollucy public antara Bank Indonesia(BI) dan Pemerintah pusat dituntut cermat, hati-hati, dan tepat sasaran. BI dalam hal kondisi ini dipaksa memainkan suku bunga secara teknis untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah tanpa harus mengekang likuiditas perbankan domestik.
Pada momentum tersebut, kebijakan fiskal lewat anggaran pengeluaran belanja negara harus tetap berfungsi sebagai suplemen untuk meredam shock absorber guna mendistribusikan subsidi dan bansos yang tepat sasaran khsusnya masyarakat rentan, sambil menjaga disiplin defisit anggaran.
Pada akhirnya, volatilitas dunia perlu dijadikan momentum bagi kita untuk mempercepat satu gebrakan transformasi struktural dan berupaya mengurangi ketergantungan impor. Strategi yang bisa dikerjakan saat ini menurut hemat saya adalah penguatan pasar domestik, hilirisasi industri yang menghasilkan nilai tambah dalam skala besar, serta diversifikasi pasar ekspor baru non-tradisional menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar.
Lewat integrasi kebijakan solid dan memprioritaskan pada kemampuan ekonomi nasional, Indonesia bukan saja mampu survivaldari tekanan eksternal, melainkan mampu keluar sebagai sang juara yang lebih tangguh, bertahan dan adaptatif dari berbagai gangguan.
