SELAKSA.ID Pengamat pendidikan Indra Charismiadji menganggap besaran anggaran pendidikan Indonesia bila diukur terhadap Produk Domestik Bruto telah tertinggal dibandingkan di kawasan Asia Tenggara. Pernyataan tersebut dikutip dari Suara Merdeka Jakarta pada Minggu (19/7/2026).
Menurut Indra, besaran anggaran pendidikan terhadap PDB masih berkaitan untuk mendeskripsikan komitmen suatu negara dalam memperbaiki sektor pendidikan jika dibandingkan hanya melihat persentase alokasi terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
"Angka ini bukan inflasi, bukan suku bunga. Ini adalah fakta pahit, Anggaran pendidikan Indonesia terhadap PDB HANYA 1,28%. Paling buncit dan terendah se-ASEAN," ucap Indra Charsimiadji sebagai dikutip jakarta suara merdeka minggu (19/7/2026).
Lebih lanjut, indra melakukan comparasi rasio belanja pendidikan terhadap PDB di sejumlah negara ASEAN yang dinilai berada di atas Indonesia.
"Sebagai perbandingan belanja pendidikan terhadap PDB negara tetangga Filipina 3,93%, Malaysia: 3,51%, Vietnam 2,89%, Thailand 2,52%, dan Indonesia 1,28%," ujarnya.
Ia mengaitkan besaran anggaran pendidikan dengan pencapaian kualitas pembelajaran. Ia menilai hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan indikator tersebut masih ada kesenjangan kemampuan belajar peserta didik Indonesia dibandingkan negara di kawasan ASEAN.
"Dampaknya brutal, Skor PISA 2022 membuktikan anak-anak kita tertinggal 3 tahun pembelajaran dibanding Vietnam. Kita sering bangga dengan aturan 20% APBN, padahal kue APBN kita kecil. Logikanya, tidak ada satu pun negara di dunia yang maju dengan anggaran pendidikan di bawah 3% PDB," ungkapnya.
Dari fenomena tersebut, Indra memandang progresif mengusulkan pembahasan revisi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) mempertimbangkan perubahan indikator pengalokasian anggaran pendidikan dari berbasis persentase APBN menjadi berbasis persentase PDB.
"Jika metrik ini tidak diubah dalam revisi UU Sisdiknas menjadi berbasis % PDB, narasi Indonesia Emas hanyalah dusta yang diproduksi massal," jelasnya.
