Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Ekonom Ferry Latuhihin: Utang pemerintah tembus Rp10.293 triliun, sebut ekonomi ditopang "koplaknomix"

25 Agu 2026, Agustus 25, 2026 WIB Last Updated 2026-08-24T22:24:59Z
SELAKSA.ID — Ekonom Ferry Latuhihin menyoroti lonjakan utang pemerintah yang disebutnya mencapai Rp10.293 triliun. Angka itu naik sekitar Rp1.800 triliun atau 21,17% dalam waktu kurang dari 2 tahun sejak pergantian pemerintahan dari Jokowi ke Prabowo pada 2024.

Dalam podcast Suara Rocker Senin (25/8/2026), Ferry menyebut pertumbuhan ekonomi di atas 5% saat ini "abal-abal" karena ditopang belanja pemerintah yang sangat besar. Di kuartal I 2025 belanja pemerintah naik 21,81% yoy dan di kuartal II naik 15,97% yoy.

"Ini tentu tidak sehat. Sampai kapan pemerintah bisa terus menopang pertumbuhan ekonomi kita dengan utang," ujar Ferry.

Ia juga mengingatkan agar tidak hanya melihat debt to GDP ratio yang masih 41%. Menurutnya yang lebih penting adalah debt service ratio. Dengan beban bunga mencapai Rp650 triliun dan penerimaan pajak sekitar Rp2.700 triliun, rasio tersebut sudah berada di atas 18% bahkan ditaksir di atas 20%. Padahal ambang aman ada di 15%.

"20% dari pendapatan pajak kita itu cuma untuk bayar bunganya saja. Ini masih base case. Ke depan bisa lebih tinggi lagi karena yield SBN 10 tahun sudah di atas 7,2%," jelasnya.

Ferry menilai utang tersebut digunakan untuk program yang ia sebut "bakar uang" seperti MBG dan KDMP. Ia menyoroti adanya kesenjangan antara pertumbuhan ekonomi 5,45% di semester I 2025 dengan kenaikan upah riil buruh yang hanya 1,73%.

"2/3-nya lari ke mana? Saya yakin larinya ke pemilik-pemilik dapur MBG dan proyek-proyek bakar uang," katanya.

Mengenai rupiah, Ferry menduga BI terpaksa menarik bilateral swap agreement dengan China sebesar 7 miliar USD untuk menahan pelemahan rupiah. Ia juga menyebut cadangan devisa BI sebesar 145 miliar USD memiliki posisi swap sekitar 30-35 miliar USD yang berpotensi menjadi beban jika jatuh tempo.

Untuk outlook 2027, Ferry menilai target pemerintah pertumbuhan 6% dan defisit 2,4% dengan kenaikan pajak 12,7% "tidak masuk akal". Alasannya, lebih dari 60% pekerja masih di sektor informal dan daya beli masyarakat melemah. Data pinjol masyarakat naik 25,8% menjadi Rp105 triliun.

"50% lebih PDB kita ditopang konsumsi rumah tangga. Kalau daya belinya turun, sangat tidak mungkin capai 6%," tegasnya.

Di akhir podcast, Ferry menyarankan investasi terbaik saat ini adalah dolar AS dan emas. Ia juga menyampaikan pesan kepada Presiden Prabowo untuk mengganti Menteri Keuangan.

"Kita perlu Menkeu yang paham bagaimana ekonomi bekerja, bukan menteri keuangan yang paham bagaimana ngutang untuk membiayai program-program politik yang sama sekali tidak bermanfaat untuk ekonomi kita," pungkasnya.

Iklan

iklan