Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Penelitian LCA Ungkap Dampak Lingkungan Peternakan Ayam Petelur di Sukamakmur Bogor

20 Agu 2026, Agustus 20, 2026 WIB Last Updated 2026-08-20T08:29:56Z
SELAKSA.ID - BOGOR — Aktivitas peternakan ayam petelur tidak hanya berperan dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan apabila tidak dikelola secara tepat. Hal tersebut menjadi perhatian dalam penelitian berjudul “Analisis Dampak Lingkungan dengan Life Cycle Assessment (LCA) pada Peternakan Ayam Petelur (Studi Kasus: Peternakan Ayam di Sukamakmur, Kabupaten Bogor)” yang dilakukan oleh Tim Peneliti dari Prodi Teknik Industri Universitas Indraprasta PGRI Jakarta yang di ketuai oleh Anita Nurfida, M.T., serta anggota tim peneliti yaitu Griselda Happy Ramadhani, S.Si., M.T dan Janudin, ST., M.T.

Penelitian tersebut mengidentifikasi sejumlah potensi dampak lingkungan yang berasal dari aktivitas peternakan ayam petelur. Dampak tersebut antara lain pencemaran udara akibat emisi amonia dan gas metana, pencemaran air yang berasal dari limbah cair, serta peningkatan jejak karbon selama proses produksi telur.

Apabila tidak ditangani melalui sistem pengelolaan yang baik, berbagai aktivitas tersebut berpotensi menurunkan kualitas udara dan air serta menimbulkan gangguan terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat di sekitar lokasi peternakan.

Untuk memperoleh gambaran dampak lingkungan secara menyeluruh, penelitian ini menggunakan pendekatan Life Cycle Assessment (LCA) atau Penilaian Daur Hidup. Berdasarkan SNI ISO 14040:2016 dan SNI ISO 14044:2017, LCA merupakan metode untuk melakukan kompilasi dan evaluasi terhadap masukan, keluaran, serta potensi dampak lingkungan dari suatu sistem produk sepanjang daur hidupnya.

Pendekatan LCA dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir atau cradle-to-grave, sehingga berbagai tahapan dalam sistem produksi dapat dianalisis secara kuantitatif. Dengan pendekatan tersebut, sumber utama dampak lingkungan dapat diidentifikasi dan menjadi dasar dalam menentukan langkah perbaikan yang lebih tepat.

Anita Nurfida mengatakan, penerapan LCA pada peternakan ayam petelur penting dilakukan untuk mengetahui sumber utama dampak lingkungan yang dihasilkan selama proses produksi telur.

“Hasil analisis LCA dapat menjadi dasar dalam menyusun strategi pengelolaan lingkungan yang lebih efektif dan berkelanjutan. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap penerapan sistem produksi peternakan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan,” ujar Anita.

Menurutnya, urgensi penelitian LCA pada sektor peternakan ayam terletak pada kebutuhan untuk memahami sekaligus mengurangi dampak lingkungan dari aktivitas produksi unggas secara menyeluruh. Pengelolaan limbah, emisi, penggunaan pakan, serta berbagai input produksi perlu menjadi bagian dari strategi peningkatan efisiensi dan keberlanjutan usaha peternakan.

Anita menambahkan, penelitian tersebut juga penting sebagai landasan untuk mengembangkan sistem peternakan yang efisien, ramah lingkungan, berkelanjutan, sekaligus memiliki daya saing tinggi di masa mendatang.

Optimalisasi Pakan dan Pengelolaan Kotoran Ayam

Berdasarkan hasil penelitian, pengelola peternakan disarankan melakukan optimalisasi penggunaan pakan melalui pengaturan jumlah dan formulasi pakan sesuai kebutuhan ayam. Upaya tersebut juga perlu disertai dengan pengurangan pakan yang tercecer atau terbuang agar penggunaan sumber daya menjadi lebih efisien.

Selain pakan, pengelolaan kotoran ayam juga perlu mendapatkan perhatian. Kotoran ayam dapat dikumpulkan secara rutin, disimpan dengan metode yang tepat, kemudian diolah lebih lanjut agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.

Limbah kotoran ayam bahkan memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk organik atau kompos maupun diolah menjadi biogas. Pemanfaatan tersebut tidak hanya dapat mengurangi beban lingkungan, tetapi juga berpotensi menciptakan nilai tambah bagi kegiatan peternakan.

Pengembangan Penelitian LCA

Ke depan, penelitian mengenai dampak lingkungan pada peternakan ayam petelur dapat dikembangkan dengan memperluas batas sistem penelitian dari gate-to-gate menjadi cradle-to-gate atau bahkan cradle-to-grave.

Perluasan tersebut memungkinkan analisis mencakup lebih banyak tahapan, mulai dari produksi bahan baku pakan, produksi berbagai input peternakan, transportasi, proses produksi telur, distribusi telur, hingga tahap penggunaan dan pengelolaan akhir produk.

“Pengembangan batas sistem penelitian akan memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai dampak lingkungan sepanjang rantai produksi. Hasilnya diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan sistem peternakan yang semakin efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan,” pungkas Anita Nurfida.

Iklan

iklan