SELAKSA.ID — Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, Dr. Muhammad Qodari, memaparkan target makro dan arah pembiayaan RAPBN 2027. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers di Gedung Bakom RI, Jakarta, Rabu (20/8/2026) dan disiarkan melalui akun YouTube BAKOM RI.
Khodari menekankan pentingnya efektivitas pelaksanaan program nasional sampai ke pemerintah daerah agar dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat.
"Kami berharap program-program nasional dapat dilaksanakan secara lebih efektif hingga tingkat daerah," ujarnya.
Defisit dan Pembiayaan 2027 Lebih Pruden
Pemerintah menargetkan defisit APBN 2027 menurun dibanding tahun sebelumnya. Penurunan ini disebut sebagai upaya menjaga kredibilitas dan keberlanjutan fiskal.
"Defisit akan berada dalam kisaran 671,12 triliun sekitar 2,40% dari PDB, menurun dari outlook tahun 2026 yaitu 2,80% dari PDB," kata Khodari.
Ia juga menegaskan strategi pembiayaan akan ditempuh secara hati-hati dan tidak konvensional.
"Kami berharap pembiayaan defisit anggaran ini akan dilakukan secara prudence, inovatif dan berkelanjutan melalui pengelolaan utang yang hati-hati, diversifikasi sumber pembiayaan," jelasnya.
Strategi itu mencakup optimalisasi peran Danantara, penerbitan SBN, serta pemanfaatan instrumen pembiayaan pembangunan lainnya.
Target Makro 2027: Tumbuh Lebih Tinggi, Sejahtera Lebih Cepat
Sejalan dengan tema RAPBN 2027, pemerintah menetapkan sejumlah sasaran ekonomi dan kesejahteraan.
"Pertumbuhan ekonomi 6%. Inflasi 2,5%. Nilai tukar 17.500 per US Dollar. Tingkat kemiskinan ditargetkan turun, tingkat kemiskinan ekstrem mendekati 0%," ungkap Khodari.
Selain itu, pemerintah juga menargetkan tingkat pengangguran terbuka menurun, Indeks Pembangunan Manusia naik ke 0,575, serta indeks kualitas lingkungan hidup membaik.
Dengan postur fiskal yang ekspansif namun terukur, Khodari menyebut APBN 2027 akan menjadi instrumen utama untuk mengakselerasi fondasi yang sudah dibangun di 2026 menuju pertumbuhan yang lebih tinggi dan kesejahteraan yang lebih cepat.