Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Darurat Integritas: Catatan Kritis untuk PP-HPMM

19 Okt 2026, Oktober 19, 2026 WIB Last Updated 2026-10-19T09:58:41Z
Riswanto, Ketua bidang jaringan informasi dan Advokasi HPMM cabang Enrekang Utara
SELAKSA.ID HPMM bukan sekadar organisasi daerah. Ia adalah episentrum perjuangan anak muda Massenrempulu di jantung kota metropolitan. Sebuah wadah yang seharusnya menjadi kawah candradimuka, tempat mahasiswa Massenrempulu yang sedang mencari jati diri ditempa, dibina, dibentuk, dan diarahkan untuk membawa harum nama daerah sekaligus eksistensi kemajuan bangsa.

Cita-cita pendiriannya begitu sangat mulia, yaitu melahirkan kader yang cakap secara ilmu pengetahuan, kaya kreativitas, kokoh dengan keimanan dan ketakwaan, bernafaskan Islam, serta bertanggung jawab penuh atas terwujudnya masyarakat yang adil, makmur, dalam ridho Allah. Untuk menopang tujuan besar tersebut, kader harus ditempa secara serius demi mewujudkan cita-cita The Founding Father.

Tiga nilai itu menjadi fondasi yang tak bisa ditawar: nilai Keislaman, nilai Ke-HPMM-an, dan nilai Kedaerahan. Value dan esensi inilah yang seharusnya menjadi kiblat kemajuan. Namun hari ini, arah itu itu perlahan mengalami degradasi. Nilai-nilai itu terkikis secara halus, dan jika dibiarkan, inilah ciri paling nyata dari sebuah kemunduran organisasi.

Di tengah situasi inilah, PP-HPMM seharusnya hadir sebagai Center Point, pengambil langkah konkret dan penegas arah. Sayangnya, yang kita saksikan hari ini PP-HPMM justru masih terjebak dalam polarisasi internal yang tak kunjung usai. Lalu, apa kabar perkaderan kita?

Padahal Pasal 9 Anggaran Dasar dengan tegas menyebutkan, fungsi HPMM adalah organisasi perkaderan. Makna perkaderan bukanlah sekadar acara seremonial. Ia adalah proses yang terus-menerus, sistematis, untuk mendidik, membina, dan membentuk jiwa yang memiliki kemauan dan kemampuan mengemban amanah kemanusiaan, demi tegaknya misi Islam dan terwujudnya tatanan masyarakat Massenrempulu yang adil dan sejahtera.

Ironisnya, momentum sakral seperti Intermediate Training yang seharusnya menjadi ruang suci untuk mempererat silaturahmi antar jajaran dan melahirkan pemimpin yang kritis, dinamis, progresif, dan inovatif dengan kemampuan manajerial yang matang, justru melahirkan ambiguitas.

Kita melihat kejanggalan yang melukai nalar perkaderan: beberapa jajaran tidak masuk dalam daftar pencalonan, namun ironisnya peserta yang tidak mengikuti tahapan pendaftaran justru tetap diloloskan. Ini melahirkan diskursus yang tak terhindarkan: Apakah Pengurus Pusat masih menganggap jajaran sebagai bagian integral? Ataukah ini bukti dari persiapan yang tidak matang?

Akibatnya, integritas PP-HPMM sebagai penyelenggara dipertanyakan. Tak heran beberapa kader dengan spirit perkaderan yang tinggi memilih mengundurkan diri sebagai peserta. Bagi mereka, integritas itu telah kehilangan esensinya. Kekecewaan itu wajar, ketika kado yang dijanjikan sebagai "kado terindah bulan ini" berubah menjadi kado terburuk yang mematahkan semangat.

Jika perkaderan hanya dijadikan simbol dan formalitas belaka, maka independensi organisasi ini sedang berada di titik terpuruk. Kader HPMM seharusnya menjadi garda terdepan saat terjadi ketimpangan di masyarakat, bukan justru menjadi korban ketimpangan dalam internal organisasinya sendiri.

PP-HPMM harus kembali inklusif, berintegritas tinggi, dan peka terhadap hal-hal kecil. Karena mengabaikan hal kecil adalah awal dari cita-cita besar yang menjadi utopis.

Mari kita merefleksi kembali. Kemunduran sebuah organisasi sering kali bermula dari satu hal: kita lupa akan hakikat perjuangan dan kita telah jauh dari sejarah kelahirannya sendiri.

Iklan

iklan