Qodari juga menyampaikan bahwa klaim tersebut dengan data akurat yang ia sebut berasal dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), persentase anak yang masuk ke kelas dalam kondisi lapar mengalami penurunan setelah pelaksanaan program MBG.
"pertama data Bappenas itu 56% anak-anak Indonesia masuk kelas dalam kondisi lapar, setelah ada MBG angkanya turun menjadi 14%," ungkapnya merespon wakil BEM UI fatimah Azzahra (17/7/2027).
Ia juga menambahkan bahwa telah terjadi peningkatan kebiasaan konsumsi buah di kalangan peserta program.
"Kemudian yang kedua, yang biasa rutin makan buah itu hanya sekitar 20%. Setelah ada MBG, 80%," ucapnya.
Qodari menjelaskan lebih lanjut dengan cara mengaitkan peningkatan konsumsi protein lewat program MBG dengan potensi peningkatan kualitas sumber daya manusia, walaupun ia mengakui keterkaitan tersebut masih ditinjau dari aspek medis.
"Dan kalau berkaitan dengan IQ, saya yakin kaitannya dengan protein ya, mudah-mudahan benar nih secara medis. Yang terbiasa atau rutin makan protein sekitar 60%, setelah ada MBG itu mencapai 90% lebih," pungkasnya.
Lebih lanjut, ia mengutip pandangan Menteri Kesehatan yang optimistis bahwa implementasi program MBG dapat memberikan dampak positif terhadap kesehatan anak-anak Indonesia di masa depan.
"Pak Menteri Kesehatan mengatakan bahwa dia yakin, dia optimis kalau MBG ini berjalan dengan baik maka 70% masalah kesehatan anak-anak Indonesia itu yang nanti akan menjadi generasi penerus dan generasi pemimpin pada tahun 2045 itu akan membaik begitu," tuturnya.
Ia mengklaim telah menyaksikan laporan sendiri laporan dampak positif MBG yang dianggap sukses terutama pada sektor ekonomi yang UMKM sebanyak 90 persen.
"Saya pribadi sudah membaca juga laporan-laporan dampak dari MBG secara ekonomi dari Dewan Ekonomi Nasional, di mana 90% melibatkan usaha lokal yang kemduian meningkatkan omset," jelasnya.
