SELAKSA.ID Rabu malam, 09/09/2026, di Warung Kopi Aceh Amiira, Casablanca, tidak ada orasi panjang. Tidak ada pidato politik. Yang ada hanya kopi panas, tawa yang sesekali pecah, dan cerita-cerita tentang seorang almarhum.
Pengurus Besar HMI Periode 2016-2018 berkumpul. Bukan untuk rapat. Bukan untuk konsolidasi. Tapi untuk silaturahmi dan doa bersama mengenang Almarhum Mulyadi P Tamsir, Ketua Umum PB HMI masa itu.
Inisiasi datang dari Hari Azwar, ex Staf Bidang. Sederhana. Tapi justru karena kesederhanaannya, acara ini terasa jujur. Tidak ada protokoler. Yang hadir ex fungsionaris yang dulu sama-sama begadang di Forum Rapat Harian, sama-sama dikejar deadline, sama-sama dimarahi, sama-sama dibesarkan oleh satu nama: Mulyadi.
Salam dari Amijaya, Ex Sekjen, yang disampaikan Hari malam itu menohok: "jangan putus silaturahmi". Kalimat yang terdengar biasa. Tapi di dunia organisasi, ini barang mahal.
Sebab kita semua tahu, setelah periode selesai, setelah jabatan lepas, yang paling cepat putus biasanya justru tali persaudaraan. Sibuk dengan urusan masing-masing. Sibuk dengan dunia baru. Nama "kader" tinggal jadi identitas di bio IG.
Karena itu, pesan Hari penting untuk digarisbawahi: para senior harus terus mengawal dan membina perkaderan adik-adik di cabang. Ini bukan soal nostalgia. Ini soal tanggung jawab estafet.
Di meja diskusi yang dimoderatori Ilham Akbar Musthofa, suasana FRH kembali hidup. Satu persatu ex fungsionaris bercerita. Bukan cerita hebat-hebatan. Tapi cerita kecil tentang Mulyadi.
Dan benang merahnya sama, almarhum dikenang sebagai sosok yang sangat tawadhu. Di era sekarang, tawadhu adalah mata uang langka. Di organisasi mahasiswa, orang berebut panggung, berebut disebut, berebut dikenang. Mulyadi memilih sebaliknya. Memimpin, tapi tidak menonjolkan diri. Mengayomi, tapi tidak menggurui.
Mungkin karena itu, 8 tahun setelah periode 2016-2018 selesai, orang-orangnya masih mau duduk bersama. Masih mau saling mengingat. Masih mau saling membesarkan. Acara ditutup pukul 23.00 WIB bukan dengan resolusi, tapi dengan doa.
HMI butuh lebih banyak ruang seperti ini. Kita terlalu sering sibuk melahirkan kader baru, tapi lupa merawat kader lama. Kita terlalu fokus pada LK I, LK II, LK III, tapi lupa LK Hati. Lupa bertanya: setelah lulus, setelah jadi alumni, kemana arah pembinaan kita?
Silaturahmi PB HMI 2016-2018 ini mengingatkan satu hal. Bahwa organisasi tidak akan kuat hanya karena AD/ART dan struktur. Organisasi kuat karena ada orang-orang yang rela duduk berjam-jam hanya untuk mendoakan ketuanya yang sudah wafat.
Karena ada orang-orang yang masih mau bilang: "ayo kita kawal adik-adik di daerah".
Karena ada kenangan tentang sosok tawadhu yang jadi kompas moral. Mulyadi sudah pergi. Tapi cara dia memimpin masih ditiru. Cara dia merangkul masih dirindukan. Dan malam itu di Amiira, kami belajar lagi: bahwa ber-HMI itu bukan tentang seberapa tinggi jabatanmu dulu. Tapi tentang seberapa lama persaudaraanmu bertahan setelah jabatannya selesai.
"Merdeka!" sudah selesai diteriakkan. Sekarang saatnya "Merawat" dimulai.