![]() |
| Ustadz H. Syamsudin AHZ, pimpinan pondok Al-Ikhlas Donggo dan Pembina Mualaf Kecamatan Donggo |
Bukan karena ia mencari panggung, tetapi karena umat dan bahkan pemerintah sendiri yang selalu mengharapkan kehadirannya. Ketika terjadi kasus sosial kemanusiaan, ketika muncul polemik di tengah masyarakat, ketika benturan antar warga nyaris pecah, sosok yang pertama kali dicari untuk menengahi adalah H. Syamsudin. Dan hampir selalu, setiap kehadirannya berujung baik dan harmonis.
Inilah alasan paling kuat mengapa akan menjadi kerugian besar bagi Kementerian Agama Kabupaten Bima jika sosok seperti beliau tidak segera dipromosikan ke jabatan struktural yang lebih tinggi.
Kita tidak sedang membicarakan ASN biasa. Kesehariannya memang tercatat sebagai ASN di KUA Kecamatan Donggo. Tapi rekam pengabdiannya jauh melampaui itu. Ia adalah mantan guru madrasah, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ikhlas Donggo hingga hari ini, dan Pembina Mualaf Kecamatan Donggo.
Namun di atas semua jabatan formal itu, ada satu peran yang tidak tertulis di SK manapun, tapi diakui oleh seluruh masyarakat Donggo: Ia adalah penengah, perawat harmoni, dan pemadam api konflik sosial.
Di wilayah yang majemuk, di mana nilai adat dan syariat harus berjalan sebagai manifestasi peradaban yang hakiki, gesekan sosial adalah hal yang wajar. Sengketa tanah, masalah rumah tangga, konflik batas, salah paham antar keluarga, bahkan isu sensitif yang berbau SARA, semua bisa dengan cepat menjadi besar di Donggo.
Di titik itulah metode H. Syamsudin bekerja. Ia tidak hadir dengan cara menghakimi atau dengan kekuasaan. Ia hadir dengan metode kultural, dengan kearifan lokal yang ia pahami betul.
Ia mampu mendudukkan nilai adat dan syariat secara bersamaan tanpa mempertentangkan keduanya. Ia tidak pernah membawa sentimen ras, suku, dan agama. Semua pihak ia dengarkan. Semua pihak ia rangkul. Dengan bahasa Donggo yang santun, dengan pendekatan kekeluargaan, ia mampu meredam amarah dan mencari titik temu.
Itu sebabnya pemerintah kecamatan, pemerintah desa, bahkan aparat sekalipun selalu berharap beliau ada di tengah. Karena mereka tahu, jika H. Syamsudin sudah turun tangan, masalah sosial kemanusiaan itu akan selesai secara damai.
Kemampuan ini bukan kemampuan biasa. Ini adalah kompetensi mediasi sosial tingkat tinggi yang sangat dibutuhkan oleh Kementerian Agama hari ini.
Kemenag bukan hanya urusan nikah, haji, dan madrasah. Tugas terberat Kemenag hari ini adalah menjaga kerukunan dan keharmonisan umat. Dan Bima, dengan segala dinamikanya, sangat membutuhkan sosok seperti H. Syamsudin di level kebijakan, bukan hanya di level lapangan.
Bayangkan jika sosok dengan kemampuan menyelesaikan puluhan kasus sosial hingga berujung harmonis ini diberi amanah jabatan struktural di Kemenag Kabupaten Bima:
Pertama, Kemenag akan punya Problem Solver. Bukan pejabat yang hanya menunggu laporan masuk, tapi pejabat yang memang dicari masyarakat untuk menyelesaikan masalah. Setiap polemik keumatan di Bima akan lebih cepat diredam karena ada sosok yang memiliki legitimasi moral di mata umat.
Kedua, Kemenag akan punya Perekat Adat dan Syariat. Ia telah membuktikan bahwa dakwah bisa dilakukan tanpa menyinggung adat, dan adat bisa dijaga tanpa melanggar syariat. Ini adalah kunci peradaban Bima yang hakiki, yang hidup di tengah kemajemukan agama. Ilmunya ini harus ditularkan ke seluruh KUA di Bima, dan itu hanya bisa terjadi jika ia berada di posisi struktural.
Ketiga, Kemenag akan untung besar secara sosial. Selama ini, negara terbantu oleh kerja-kerja sosial kemanusiaan H. Syamsudin secara gratis dan ikhlas. Sudah saatnya negara membalas keikhlasan itu dengan amanah yang lebih besar. Itu akan menjadi pesan kuat bahwa negara hadir dan menghargai siapa yang bekerja untuk harmoni.
Ustadz H. Syamsudin AHZ tidak pernah meminta jabatan. Umat dan pemerintah lah yang selalu meminta kehadirannya.
Jangan biarkan mutiara penengah umat ini terlalu lama berada di Donggo saja. Donggo sudah merasakan manfaatnya, sekarang saatnya seluruh Kabupaten Bima merasakan manfaatnya melalui jabatan struktural di Kementerian Agama.
Mengangkat H. Syamsudin bukan sekadar promosi, tapi investasi untuk menjaga Bima tetap harmonis.
