![]() |
| Konsolidasi DPN PERDESA |
Konsolidasi ini menjadi langkah awal untuk memperkuat persatuan pemuda desa se-Indonesia sekaligus merumuskan pembangunan desa yang berbasis riset, inovasi, potensi lokal, dan keberlanjutan.
Kegiatan tersebut dihadiri perwakilan dari 34 provinsi dan 68 etnis. Pesertanya berasal dari latar belakang yang beragam, mulai dari pemuda, mahasiswa, guru, aktivis, akademisi, wiraswasta, pengacara, hingga pengusaha dan kontraktor.
DPN PERDESA juga membuka ruang kolaborasi lintas organisasi. Sejumlah elemen yang terlibat di antaranya OKP Cipayung Plus, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), serta berbagai organisasi kepemudaan daerah.
Salah satu tokoh pemuda yang hadir, Sekum GMKI 2022-2024 Artinus Hulu menyebut desa sebagai pondasi bangsa. Ia berharap PERDESA bisa menjadi rumah bersama bagi pemuda desa untuk berkolaborasi dan mewujudkan kesejahteraan.
Senada, tokoh perempuan Sulut yang juga Wabendum GAMKI, Fancy, mendorong pemuda desa agar solid dan mampu bersaing di tingkat nasional sebagai agen perubahan. Hadir pula tokoh pemuda lainnya seperti Ketua Umum Basudara Aman Cobyan dan fungsionaris PB II Agung Gumelar.
Menurut DPN PERDESA, keberagaman latar belakang justru menjadi kekuatan. Pembangunan desa tidak bisa dengan satu pendekatan seragam karena setiap desa memiliki karakter, potensi, dan persoalan yang berbeda.
Melalui konsolidasi ini, PERDESA ingin mendorong gerakan pemuda desa yang tidak hanya menyuarakan masalah, tetapi juga menghadirkan data, riset, dan solusi nyata. Pembangunan desa berbasis inovasi diharapkan mampu mengoptimalkan potensi lokal, meningkatkan SDM, membuka peluang ekonomi, dan memperkuat kemandirian desa menuju Indonesia Emas 2045.
Founder Persatuan Pemuda Desa Indonesia, Yukenriusman Hulu, mengatakan konsolidasi ini bukan sekadar pertemuan, melainkan momentum menyatukan gagasan pemuda dari Sabang sampai Merauke.
"Kita ingin membangun gerakan yang bekerja berdasarkan data, riset dan inovasi, sehingga setiap persoalan desa dapat dijawab dengan solusi yang tepat dan sesuai kebutuhan masyarakat," ujar Yukenriusman.
Ia menegaskan DPN PERDESA tidak berjalan sendiri dan terbuka untuk kolaborasi dengan organisasi kepemudaan, mahasiswa, akademisi, dunia usaha, hingga masyarakat sipil.
"Perbedaan latar belakang bukan penghalang, justru menjadi kekuatan untuk melahirkan gagasan yang lebih kaya dan solutif," katanya.
Sementara itu perwakilan Sumatera Utara, Donius, dan perwakilan kepulauan 3T, April Julianus, menegaskan pemuda desa tidak boleh hanya menjadi penonton. Pemuda harus menjadi subjek dan penggerak perubahan dengan membawa pengetahuan, teknologi, dan kreativitas sesuai karakter desanya.
"Dari desa kita membangun Indonesia, dan dari pemuda desa kita menyiapkan masa depan bangsa," tegasnya.
Konsolidasi Akbar ini juga menjadi tahap awal menuju Deklarasi Nasional DPN PERDESA yang akan segera digelar untuk mempertegas arah perjuangan organisasi.
Dengan visi mewujudkan pemuda desa yang bersatu, berdaya, mandiri, dan inovatif, DPN PERDESA berharap gerakan ini menjadi wadah nasional yang mempertemukan potensi pemuda dan menjadikan desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi, sosial, budaya, dan inovasi Indonesia.

