Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Dilema Kesejahteraan Dosen di Indonesia: Pengabdian Moral yang Dilupakan

4 Jul 2026, Juli 04, 2026 WIB Last Updated 2026-07-04T10:47:03Z

SELAKSA.ID visi indonesia emas 2045 yang menjadi slogan, ide, cita-cita, dan mimpi bersama bangsa Indonesia. Narasi ini muncul sebagai respon kegesitan, ambisi menuju kemapanan, dan kegemilangan masa depan bangsa. Dari guru hingga dosen mengeluhkan imbalan dari pengabdian, tanggung jawab mereka berat yaitu mengajarkan anak bangsa guna memenuhi sumber daya manusia yang kualitas.

Semua sejarah bangsa dimulai dengan ideologi berbeda, dari sistem politik komnis hingga ekonomi kapitalis mengutamakan pendidikan sebagai lokomotif menggerakkan bangsanya. negara-negara yang mampu menghasilkan inovasi dari kemampuan sumber daya manusia unggul dihasilkan dari pendidikan. 

Kita sudah melihat berbagai macam contoh, sebut saja tetangga kita Singapura. Negara kecil tersebut mampu menyaingi ekonomi global, korea selatan yang tidak memiliki sumber daya alam tapi mereka bisa produksi barang yang diminati masyarakat dunia. Masih banyak contoh-contoh negara besar dengan produk pendidikan kualitas dapat menghasilkan peradaban yang luar biasa.

Dari semua negara tersebut, mereka tidak mencapai dalam waktu singkat seolah membalikkan telapak tangan, tetapi pemerintahnya secara sadar melakukan revolusi pikiran warga dengan cara memperlakukan guru sebagai aset.

Dalam ekosistem pendidikan khususnya perguruan tinggi, dosen memegang peran sentral untuk menerjemahkan Tri Dharma perguruan tinggi sampai pada tahapan tuntutan akademik publikasi jurnal. 

Gaji Rata-Rata Dosen di Indonesia 3,36 Juta di Bawah Negara Asean

angka Rp3,36 juta berada di bawah standar negara-negara di ASEAN sebuah paradoks yang ironis dan sebuah tamparan keras terhadap narasi besar "Indonesia Emas 2045". Pada satu sisi, dosen dituntut menghasilkan mutu riset kelas dunia, sementara pada sisi lain mutu gaji tidak sesuai output kerja. Sebuah paradoks susbstasial dan fenomena dilematik bagi para dosen. 

Indonesia bukan negara skandinavia, dimana pemerintahnya membayar upah guru setara upah dokter. Negara yang memperlakukan pengajar sebagai aset telah memetik hasil positif: kemajuan ekonomi, riset, inovasi, dan peradaban teknologi. Dosen indonesia dituntut melakukan hal-hal besar, tapi mereka hanya dihargai layaknya buruh pabrik.

Ketertinggalan finansial ini secara langsung mengerdilkan daya saing akademik Indonesia di kancah regional, dimana dosen yang seharusnya berada pada ruangan laboratorium terpaksa mencari pendapat lain untuk memenuhi kebutuhan ekonomi di tengah inflasi. Sehingga akhirnya, fokus pengajaran dan penelitian terdistraksi pada objek lain. Akhirnya mutu dari penelitian tertinggal dari negara-negara lain.

Defisit kesejahteraan dosen Indonesia pada akhirnya menciptakan lingkaran yang merusak ekosistem dan integritas akademik. waktu yang digunakan harusnya memproduksi karya ilmiah habis tergerus, fokus membimbing mahasiswa terkendala, dan ekosistem kampus rentan terjebak pragmatisme instan seperti perjoki jurnal atau publikasi di jurnal predator.




Iklan

iklan