Menurutnya, salah satu permasalahan utama sulitnya memberantas korupsi adal adanya tekanan terhadap pihak-pihak yang menjalankan tugas memberantas korupsi secara profesional.
"Pemberantas korupsi dipersekusi. Setiap orang yang melaksanakan tugas dengan baik - bukannya didukung, tapi rame-rame mencari kesalahan yang bersangkutan," tulis muhammad Said Didu tanggal (15/7/2026).
Di samping itu, ia mengkritikisi terkait regenerasi kepemimpinan di berbagai institusi. Dia menilai jabatan strategis diisi oleh orang-orang yang tidak memiliki integritas sehingga proses regenerasi kepemimpinan akan melahirkan pejabat dengan karakter serupa.
"Kaderisasi pejabat yang bisa disogok. Jika pimpinan institusi diisi oleh orang tidak bersih dipastikan akan memilih bawahan dan kader yang juga tidak bersih," ujarnya.
Selain itu, putra asal Sulawesi tersebut menilai eksistensi orang-orang yang memiliki kemapanan dan figur-figur yang memiliki pengaruh hanya menyaksikan praktek-praktek demikian tampa memberi kontribusi moral untuk perbaikan sistem demi tetap eksis.
"Orang mapan atau tokoh memilih cari aman. Banyak tokoh berpengaruh yang memilih diam saat melihat karusakan demi cari aman," jelasnya.
Pandangan tersebut merupakan kritik antropologis yang menekankan pentingnya memberantas korupsi, dan perbaikan sistem kaderisasi pejabat guna menghasilkan sistem hukum yang bersih dari kepentingan kelompok.
