Dalam pernyataannya disampaikan pada acara talk show via kompasTV, Zainal Arifn muchtar menegaskan bahwa peristiwa di belakang terjadinya perseteruan antara dua pihak tidak boleh mengaburkan substansi perkara hukum yang sedang berjalan.
"Tidak peduli dengan motif untuk saling tikam itu nanti motifnya bales dendam atau tidak, yang perlu disoroti adalah, kasus yang terkuak ini praktik korupsi atau bukan, motif menjadi hal yang kesekian," ungkap zainal arifin muchtar di acara talk show kompas TV (11/7/2026).
Akademisi asal universitas Gadja Madha menambahkan bahwa barometer mendasar dalam menilai kasus tersebut adalah kejelasan alat bukti hukum yang dimiliki oleh penyidik, bukan interpertasi di ruang publik tentang siapa yang diuntungkan atau dijatuhkan.
"Hal yang paling krusial adalah memastikan apakah tindakan tersebut merupakan praktik korupsi yang memiliki bukti, aliran dana, dan peristiwa yang jelas," tegasnya.
Ia juga memperingatkan efek buruk jika konflik terbuka antara dua kekuatan besar ini dibiarkan berlarut tanpa kejelasan hukum yang objektif. Ia menegaskan, pertarungan elit hanya akan menciptakan celah yang menguntungkan kelompok-kelompok pencari keuntungan sepihak, sementara publik tetap menjadi pihak yang paling dirugikan.
"Pertarungan antar dua gajah ini jika terus berlarut, yang paling dirugikan adalah rumputnya alias masyarakat. Yang paling diuntungkan adalah koruptor atau oligarki tertentu," pungkasnya.
